Wednesday, August 26, 2015

Pelajaran Yang Berharga

PELAJARAN BERHARGA DARI NY,MANAADA.

Semakin aku berusaha melupakan peristiwa itu, semakin aku mengingatnya. Padahal, peristiwa kelam itu sudah lebih dari 40 tahun silam. Sampai sekarang aku berusaha membuang akar pahit itu dan menerima semua peristiwa itu sebagai bagian dari hidup. Tujuannya, agar aku bisa mengalami kedamaian batin.     ManaAda, namaku, aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Sekarang aku berusia 51 tahun  dan dikaruniai 4 anak. Sejak kecil aku diperlakukan sangat berbeda dengan adikku, ManaDana. Aku punya tanaggung jawab besar untuk mengurus rumah tangga dan menjaga adikku yang jarak usianya tidak jauh berbeda denganku. Ibu sangat ringan tangan dan kejam padaku, berbeda dengan bapakku. Berkali kali tubuhku yang kecil itu dihampiri gagang sapu dan cubitan, disertai umpatan yang pedas.     Aku ingat sekali, pernah waktu SD aku diminta menjaga warung milik kami. Waktu itu musim mangga, dan aku sangat ingin memakan mangga yang tak lain barang dagangan ibu. Setelah ibu tahu, aku dipukuli berkali kali dan dibentak habis habisan. Ibu begitu marah, sampai aku ketakutan di buatnya. Akupun lari sekuat tenaga tanpa arah tujuan. Salah satu anggota keluarga pendeta tahu peristiwa itu dan menyelamatkan aku dari amarah ibuku. Pendeta itu menasehati ibuku untuk tidak bersikap demikian terhadapku. Namun sikap ibuku tidak pernah berubah.     Didikan yang begitu keras membuat aku memiliki daya juang tinggi dan lebih mandiri. berbeda dengan adikku, ia lebih manja dan selalu bergantung pada ibu. Dalam hal ini aku bersyukur pada Tuhan, sebab pengalaman pahit membentuk karakterku untuk tidak mudah putus asa dan semakin mengandalkan Tuhan. Dialah tempat aku mengadu dan berkeluh kesah. Aku ingat waktu bapak pendeta menasehati aku.  " Bagimu matahari tidak lagi menerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi menjadi penerang pada malam hari, tetapi Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu ". Kerap kali aku merasa masa depanku suram, hanya ada ketakutan dan kesedihan. Ternyata tidak, sebab Tuhan senantiasa hadir dalam hidupku, baik dalam suka maupun duka.     Aku bahagia dengan keluargaku. Suami dan anak anak serta cucuku sebagai penyemangat hidupku. Pengalaman pahit membuatku berusaha untuk menjadi ibu dan sahabat yang baik bagi anak-cucuku. Cukup aku yang mengalami kekerasan rumah tangga, jangan anak-cucuku. Sudah lama berlalu namun hubunganku dengan ibu masih terasa ada jarak. Padahal ibu sudah banyak berubah. Ia tidak lagi mnegeluarkan kata kata kotor dan pedas, atau bersikap sinis padaku. Untuk mencairkan hubungan, aku terus berusaha mendekatkan diri dengan mengunjunginya, membawa makanan kesukaannya, atau sekedar menemaninya menonton sinetron kesayangannya. Aku ingin ibu tahu bahwa aku menyayanginya dan menerima dirinya, seperti Tuhan menyayangi dan menerima diriku.     Dalam usia ibu yang semakin senja, kini ibu lebih sering sakit sakitan. Beban pikiran utamanya adalah adikku, ManaDana, yang sampai saat ini selalu membuat masalah, tidak hanya dengan keluarga, tetapi dengan orang lain juga. ManaDana punya utang sangat banyak, keluarganya berantakan, dan ia hannya memikirkan dirinya sendiri. Sekalipun ibu kami sakit, ia lebih memilih bersenang senang daripada memikirkan ibu. Banyak yang berkata, " Anak yang disia siakannya justru sering hadir di masa tuanya. Sedangkan ManaDana, anak kesayangannya lebih memperhatikan dirinya sendiri."     Aku ingin terus berbakti pada ibuku. Ini bukan perkara yang  mudah bagiku, tetapi aku selalu berjuang melawan godaan untuk membalas sakit hatiku. Dulu ibu sangat berkuasa, tidak berperasaan, dan memiliki tubuh yang sehat. Kini ibuku semakin lemah dan sering bergantung pada orang lain. Jika dorongan itu muncul, sesegera mungkin aku datang pada Tuhan, " Than kuatkan imanku agar tidak membalas dendam pada ibuku."  Pergumulan batin yang tidak mudah kulewati.  Karya Tuhan memang sungguh sangat luar biasa bagiku. Dia sanggup membuka dan melembutkan hati ibuku. Tuhan juga telah memberikan hikmat yang luar biasa padaku untuk melihat semua pengalaman pahit dengan "kacamata " iman.

No comments:

Post a Comment