PELAJARAN BERHARGA DARI NY,MANAADA.
Semakin
aku berusaha melupakan peristiwa itu, semakin aku mengingatnya.
Padahal, peristiwa kelam itu sudah lebih dari 40 tahun silam. Sampai
sekarang aku berusaha membuang akar pahit itu dan menerima semua
peristiwa itu sebagai bagian dari hidup. Tujuannya, agar aku bisa
mengalami kedamaian batin. ManaAda, namaku, aku adalah anak pertama
dari dua bersaudara. Sekarang aku
berusia 51 tahun dan dikaruniai 4 anak. Sejak kecil aku diperlakukan
sangat berbeda dengan adikku, ManaDana. Aku punya tanaggung jawab besar
untuk mengurus rumah tangga dan menjaga adikku yang jarak usianya tidak
jauh berbeda denganku. Ibu sangat ringan tangan dan kejam padaku,
berbeda dengan bapakku. Berkali kali tubuhku yang kecil itu dihampiri
gagang sapu dan cubitan, disertai umpatan yang pedas. Aku ingat
sekali, pernah waktu SD aku diminta menjaga warung milik kami. Waktu itu
musim mangga, dan aku sangat ingin memakan mangga yang tak lain barang
dagangan ibu. Setelah ibu tahu, aku dipukuli berkali kali dan dibentak
habis habisan. Ibu begitu marah, sampai aku ketakutan di buatnya. Akupun
lari sekuat tenaga tanpa arah tujuan. Salah satu anggota keluarga
pendeta tahu peristiwa itu dan menyelamatkan aku dari amarah ibuku.
Pendeta itu menasehati ibuku untuk tidak bersikap demikian terhadapku.
Namun sikap ibuku tidak pernah berubah. Didikan yang begitu keras
membuat aku memiliki daya juang tinggi dan lebih mandiri. berbeda dengan
adikku, ia lebih manja dan selalu bergantung pada ibu. Dalam hal ini
aku bersyukur pada Tuhan, sebab pengalaman pahit membentuk karakterku
untuk tidak mudah putus asa dan semakin mengandalkan Tuhan. Dialah
tempat aku mengadu dan berkeluh kesah. Aku ingat waktu bapak pendeta
menasehati aku. " Bagimu matahari tidak lagi menerang pada siang hari
dan cahaya bulan tidak lagi menjadi penerang pada malam hari, tetapi
Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu ". Kerap kali aku merasa masa
depanku suram, hanya ada ketakutan dan kesedihan. Ternyata tidak, sebab
Tuhan senantiasa hadir dalam hidupku, baik dalam suka maupun duka.
Aku bahagia dengan keluargaku. Suami dan anak anak serta cucuku sebagai
penyemangat hidupku. Pengalaman pahit membuatku berusaha untuk menjadi
ibu dan sahabat yang baik bagi anak-cucuku. Cukup aku yang mengalami
kekerasan rumah tangga, jangan anak-cucuku. Sudah lama berlalu namun
hubunganku dengan ibu masih terasa ada jarak. Padahal ibu sudah banyak
berubah. Ia tidak lagi mnegeluarkan kata kata kotor dan pedas, atau
bersikap sinis padaku. Untuk mencairkan hubungan, aku terus berusaha
mendekatkan diri dengan mengunjunginya, membawa makanan kesukaannya,
atau sekedar menemaninya menonton sinetron kesayangannya. Aku ingin ibu
tahu bahwa aku menyayanginya dan menerima dirinya, seperti Tuhan
menyayangi dan menerima diriku. Dalam usia ibu yang semakin senja,
kini ibu lebih sering sakit sakitan. Beban pikiran utamanya adalah
adikku, ManaDana, yang sampai saat ini selalu membuat masalah, tidak
hanya dengan keluarga, tetapi dengan orang lain juga. ManaDana punya
utang sangat banyak, keluarganya berantakan, dan ia hannya memikirkan
dirinya sendiri. Sekalipun ibu kami sakit, ia lebih memilih bersenang
senang daripada memikirkan ibu. Banyak yang berkata, " Anak yang disia
siakannya justru sering hadir di masa tuanya. Sedangkan ManaDana, anak
kesayangannya lebih memperhatikan dirinya sendiri." Aku ingin terus
berbakti pada ibuku. Ini bukan perkara yang mudah bagiku, tetapi aku
selalu berjuang melawan godaan untuk membalas sakit hatiku. Dulu ibu
sangat berkuasa, tidak berperasaan, dan memiliki tubuh yang sehat. Kini
ibuku semakin lemah dan sering bergantung pada orang lain. Jika dorongan
itu muncul, sesegera mungkin aku datang pada Tuhan, " Than kuatkan
imanku agar tidak membalas dendam pada ibuku." Pergumulan batin yang
tidak mudah kulewati. Karya Tuhan memang sungguh sangat luar biasa
bagiku. Dia sanggup membuka dan melembutkan hati ibuku. Tuhan juga telah
memberikan hikmat yang luar biasa padaku untuk melihat semua pengalaman
pahit dengan "kacamata " iman.
No comments:
Post a Comment